Logo


Hampir disegala aspek kehidupan akan terpengaruh oleh revolusi industri yang makin berkembang sehingga pemerintah sangat gencar mengarahkan segala elemen untuk terus bergerak dan beradaptasi termasuk para pelaku seni. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor kembali menyelenggarakan kegiatan “Peningkatkan Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesenian Tradisional (Bimbingan Seni Budaya Bidang Seni Tari)” bertempat di Rizen Premiere Hotel, Cisarua, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh para pelaku seni sanggar tari yang ada di Kabupaten Bogor yang dibagi menjadi 2 angkatan yang dilaksanakan pada 2 waktu yang berbeda yakni angkatan I dari tanggal 15 hingga 17 Juni 2021 dan angkatan II pada tanggal 23 hingga 25 Juni 2021. 

ISBI Bandung pun kembali dipercayai oleh Disbudpar Kabupaten Bogor untuk menjadi salah satu narasumber pada bimbingan seni budaya bidang tari ini yang mengangkat seni garapan sebagai materi yang perlu dibekali kepada para peserta. Ibu Riyana Rosilawati , S.Sen., M.Si. dosen tari Fakultas Seni Pertunjukkan ISBI Bandung berkolaborasi dengan Bapak R. Atang Supriyatna, S.Sn., M.Pd. praktisi seni Kabupaten Bogor menjadi narasumber pada kegiatan bimbingan ini serta Nurhidayat, S.Sn. dengan panggilan akrab Kang Adik sebagai moderator yang merupakan alumni seni tari ISBI Bandung.

Kegiatan ini dilakukan tetap dengan memperhatikan Protokol Kesehatan dengan menggunakan masker, mencuci tangan/menggunakan hand sanitizer dan menjaga jarak. Sebelum pelaksanaannya, panitia memastikan tempat yang digunakan sudah didesinfektan terlebih dahulu. Selanjutnya dilakukan pengukuran suhu dan tes rapid antigen kepada seluruh peserta, panitia dan narasumber oleh petugas kesehatan dari Klinik BUMDes Megamendung Jaya. Hasil dari tes rapid antigen yang telah dilakukan dinyatakan seluruhnya non-reaktif.

Acara dimulai dengan pembacaan laporan kegiatan oleh Ibu Heni Widyawati, S.Sos. selaku ketua pelaksana kegiatan.

“Bimbingan teknis seni budaya bidang seni tari ini diselenggarakan dengan maksud untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan para pelaku seni yang diharapkan dapat mengembangkan potensi kebudayan daerah khususnya Kabupaten Bogor,” tuturnya.

Angkatan I pada kegiatan ini berjumlah 18 orang peserta yang berasal  6 sanggar tari yaitu sanggar Putri Galuh, sanggar Jongring Salaka, sanggar Komara Sunda, sanggar Panghegar, sanggar Sapujagat dan sanggar Rahayu. Para peserta mendapatkan pemaparan dan pelatihan langsung tentang seni tari garapan dari narasumber.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi momentum penting untuk para pelaku seni khususnya seni tari di Kabupaten Bogor sehingga dapat lebih berkembang dan berkualitas,”ucap Ibu Ike Selviany, AP.,M.Si dalam sambutannya mewakili Plt. Kepala Disbudpar Kabupaten Bogor. 

Dengan terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat menambah kompetensi khususnya bidang seni tari dan kedepannya akan terbentuk pelaku seni yang berkualitas yang turut berkontribusi dalam perkembangan seni budaya di Kabupaten Bogor.

Ibu Ike juga berpesan kepada para peserta agar dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya yang dapat berguna di masa yang akan datang dan juga dapat meningkatkan prestasi yang membanggakan baik bagi peserta maupun Kabupaten Bogor.

Ibu Riyana menjelaskan setiap orang yang berkreativitas harus mempunyai keberanian, yang didukung dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Keberanian di sini dalam arti tidak takut disalahkan dan dicemooh orang lain. Tanpa memiliki keberanian seseorang tidak akan pernah bisa menghasilkan sesuatu. Seni itu bersifat intuitif, jadi setiap orang bebas untuk berkarya. Meskipun dibebaskan, aturan atau pakem tetap diikuti agar tidak ke luar dari aturan-aturan tersebut.

Untuk memulai proses kreatif dalam menggarap atau menciptakan suatu tarian dimulai dengan beberapa tahapan yang dapat menciptakan tarian dengan cukup mudah dan menghasilkan tarian yang cukup bagus dan menarik. Adapun tahapannya adalah:
1. Eksplorasi, yakni memunculkan tema tarian yang akan dijadikan sebuah ide gagasan dalam menciptakan suatu karya seni,
2. Evaluasi, untuk  mengupas  kelebihan  dan  kekurangan  proses  dalam  penciptaan karya tersebut dan harus menemukan titik temu bila terdapat hambatan,
3. Komposisi, diartikan sebagai tahapan kerja secara teknis dan konseptual, kalimat-kalimat gerak yang sudah ada dicoba dievaluasikan dan disusun berdasarkan konsep garap yang telah ada.

“Proses kreativitas dalam dunia tari tidak hanya dengan mengetahui teorinya saja, tetapi harus dilakukan dengan tahapan-tahapan praktik melalui eksplorasi, evaluasi, dan komposisi, jika semuanya dilakukan dengan mengaplikasikan antara teori dan praktik, tentunya akan terwujud sebuah garapan tari yang baik,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan bahwa penciptaan karya tari tidak akan terlepas dari karawitan tarinya. Ada karya tari yang menggunakan musik eksternal, yaitu musik yang bunyi-bunyiannya dihasilkan dari alat musik, misalnya dalam alat musik tradisional seperti gamelan, kacapi, suling dan, kendang. Adapun musik internal sebagai pengiring tarian, yaitu musik yang bunyi-bunyiannya dihasilkan dari penari itu sendiri seperti suara siulan, teriakan, dan tepuk tangan.

Hal lain yang  juga menjadi unsur penting dalam mendukung sajian sebuah pementasan tari adalah tata rias, busana dan properti tari. Selain sebagai pelengkap dan penunjang estetika tari, juga berguna sebagai identitas yang mencerminkan tarian tersebut sehingga dari penataan rias dan busana dapat tersampaikan pula makna dan isi yang terkandung pada tarian yang dipentaskan.

Pada Sesi praktek, narasumber mempersilahkan kepada para peserta untuk menunjukkan garapan tari berdasarkan masing-masing sanggar yang sebelumnya telah diminta oleh panitia untuk dipersiapkan. Narasumber memberikan apresiasi dan masukan untuk menjadi perbaikan kepada setiap sanggar yang telah menampilan tari yang baru digarap hanya dalam beberapa hari saja sebelum jadwal kegiatan ini. Tarian tersebut akan ditampilkan kembali pada hari berikutnya yang disesuaikan dengan masukan narasumber serta lengkap dengan kostum dan properti yang telah disiapkan peserta.

Setelah semuanya tampil, Ibu Riyana memberikan arahan garapan drama tari baru dengan iringan musik yang telah dipilih bersama Pak Atang dan Kang Adik. Ide cerita diambil dari cerita yang sudah fenomenal di Jawa Barat, mengingat waktu yang dimiliki peserta tidaklah  banyak yang disesuaikan dengan kemampuan dan karakter para peserta yang sebelumnya telah dilihat oleh Ibu Riyana dan Pak Atang. 

“Saya menggali dari potensi mereka, mereka udah punya gerak apa, jikalau mereka blank juga, saya kasih gitu yah. Kemudian diberi pembentukan dari ruang, waktu dan tenaga dari ilmu komposisi itu dipadukan dengan struktur dramatik di dalam cerita itu,”jelas Bu Riyana.

Para peserta pun kompak dengan niat ingin memberikan yang terbaik dari ilmu yang telah didapatkan dalam menyelesaikan garapan drama tari tersebut dari konsep hingga latihan untuk dipentaskan di akhir kegiatan. Dalam kurungan beberapa jam yang telah ditentukan para peserta bersama Bu Riyana dan Pak Atang telah dapat menggarap drama tari yang bertajuk “Pangharep Tahta”.

“Saya tidak mengejar bagus nggaknya, yang penting drama tari ini kebentuk dengan kemasan yang sederhana dan mengangkat kemampuan dari skill tari mereka juga,”imbuhnya.

Penciptaan atau penggarapan drama tari ini mengangkat kisah fenomenal Luntung Kasarung, Purbasari dan Purbalarang yang menceritakan perebutan kekuasaan harus melewati jalan yang benar. Keserakahan dan ambisi manusia hanya akan menghancurkan angan saja dan keadilan akan berpihak kepada kebenaran. Drama tari ini pun ditampilkan sebelum penutupan kegiatan yang disaksikan oleh para narasumber dan panitia.

Ibu Riyana sangat mengapresiasi usaha dari para peserta yang dapat menampilkan drama tari dalam waktu yang singkat namun ditampilkan dengan sangat luar biasa.

“Ini sebagai tanda bukti kerja kreatif Anda semuanya tidak sia-sia, bekal dan talenta yang telah dipunyai Anda semua itu menjadi tonggak untuk menjadikan Kabupaten Bogor bisa maju terutama dalam bidang seni budaya,” ujarnya.

Pak Atang mengungkapkan bahwa saat ini bidang seni budaya sangat membutuhkan tangan creator tradisi-tradisi Kabupaten Bogor yang dapat mengangkat identitas daerah bukan hanya secara ritual namun juga secara entertain dan estetik serta memikirkan bersama bagaimana kita sekarang dihadapkan kepada media ekspresi yang baru yaitu media virtual. Jika sanggar memiliki keterampilan mengelola ruang baru ini, maka tidak akan ada istilah sanggar yang tidak produktif dan sanggar dapat tetap eksis serta menjalankan tugasnya sebagai garda depan penjaga tradisi. 

Pada kesempatan ini Ibu Riyana memberikan 2 buah buku yang ditulisnya bersama beberapa dosen ISBI Bandung lainnya yang berjudul Membaca Seni dan Warisan Budaya di Era Smart Society; dan Wacana Pemajuan Kebudayaan dalam Dinamika Budaya Lokal kepada Disbudpar Kabupaten Bogor yang wakili oleh Ibu Ike selaku Kepala Bidang Kebudayaan.

 
“InsyaaAllah, mudah-mudahan 2 buku ini bermanfaat untuk kemajuan kebudayaan Kabupaten Bogor,” ucapnya.

Sebelum kegiatan resmi ditutup, Ibu Ike juga menyampaikan harapannya bahwa sanggar boleh dimiliki oleh siapa saja, akan tetapi untuk pelatih hendaklah memang orang yang bergerak di bidangnya sesuai teori yang dalam artian adalah seorang lulusan sarjana seni sehingga bakat yang ada akan lebih terarah, tidak hanya sekedar bergerak saja.


“Mudah-mudahkan kedepannya Anda akan menjadi lebih sukses dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara khususnya Kabupaten Bogor, “imbuhnya.

Dilihat dari para peserta yang hadir, mereka sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan ini dari awal pembukaan hingga penutupan. Bagi mereka ini menjadi salah satu wadah silatuhrami antar sanggar, menambah teman baru dan sarana menimba ilmu baru.

 

ISBI Bandung
Pusat Kreativitas Berbasis Manajemen Seni dan Jaringan
Kampus Merdeka-Indonesia Jaya

ISBI Bandung Alamat, Jl. Buah Batu No. 212 Bandung | Phone: +62 7314982 | Fax: +62 7303021 | e-Mail: isbi@isbi.ac.id