Logo

 
BANDUNG – Pokja Bidang Kebudayaan Forum Rektor Indonesia (FRI) bekerja sama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menggelar webinar bertajuk “Menjaga Ketahanan Budaya melalui Penguatan Kearifan Lokal di Era Disrupsi” pada Rabu (30/06/21) secara daring melalui video telekonferensi Zoom Meeting dan disiarkan secara Live melalui kanal YouTube Official ISBI Bandung. Webinar ini diselenggarakan pukul 09.00 hingga 11.30 WIB.

 

Kegiatan Webinar ini dipandu oleh Hikmaningtias Maharani, S.T., M.Kom. (Pranata Humas ISBI Bandung) sebagai MC, Dr. Yanti Heriyawati (Direktur Pascasarjana ISBI Bandung) sebagai moderator diskusi, dan Afri Wita, M.A. (Kepala Pusat Penelitian LP2M ISBI Bandung) sebagai notulis. Setelah pembacaan doa dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya secara daring, Dr. HM Nasrullah Yusuf, SE., MBA. selaku Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia yang sekaligus menjabat sebagai Rektor UTI dan Ketua Umum DPP HISPPI PNF memaparkan materi pengantar yang berkaitan dengan tema webinar.

“Saat ini kita berada di era disrupsi, ketahanan dan kearifan budaya sudah mulai berkurang karena adanya cross culture yang tidak bisa kita hindari. Dalam upaya menjaga ketahanan budaya, kita harus beradaptasi dengan perubahan dan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada,” katanya. 

Selanjutnya, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen. M.Hum yang merangkap menjabat sebagai Ketua Pokja Bidang Kebudayaan Forum Rektor Indonesia, Ketua BKSPT Seni, dan Rektor ISBI Bandung berkesempatan menjadi Pemantik dalam webinar tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa era disrupsi secara fundamental mengakibatkan perubahan cara manusia berfikir, hidup, dan berhubungan satu dengan yang lainnya. 

 

“Salah satu kunci untuk menghadapi era disrupsi ini selain menyiapkan kemajuan teknologi diperlukan pula pengembangan SDM dari sisi humaniora terutama penguatan kearifan lokal perlu terus ditingkatkan agar dampak negatif dari perkembangan teknologi ini dapat ditekan,” tambahnya. 

Setelah beliau menyampaikan paparannya, terdapat pemutaran video sajian pertunjukan karawitan dengan judul “Ngepung Lutung”. Sajian ini menampilkan aransemen musik oleh mahasiswa karawitan ISBI Bandung yang diadaptasi dari salah satu repertoar pada kesenian Calung Renteng Pandeglang.

Pembicara Kunci dalam webinar ini adalah Dr. Hilmar Farid yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan. Saat itu, beliau memaparkan materi dengan tema “Pemajuan Kebudayaan dan Potensi Kearifan Lokal sebagai Modal Imunitas”. 

 

“Kearifan lokal bukan sekedar penting dari segi identitas. Bukan hanya penting untuk menjaga ketahanan budaya secara abstrak, tapi sesungguhnya memiliki nilai yang sangat mendasar di dalam dunia era disrupsi sekarang ini. Banyak orang menghadapkan era disrupsi dengan ‘ketertinggalan’. Dengan bekal pengetahuan kearifan lokal yang kita miliki yang diwariskan turun temurun, sebenarnya kita dapat berjalan di depan era disrupsi ini,” tambahnya.

Beliau juga mengatakan bahwa Inovasi saat ini tidak bisa dilihat sebagai lawan dari tradisi, justru sebaliknya. Menurut beliau tradisi merupakan inovasi di masa lalu. Sebagai contoh, baju batik di 100 tahun lalu tidak dipakai sebagai kemeja, tetapi perlahan terdapat inovasi mengenakan batik sebagai baju dan kemeja dan saat ini menjadi tradisi baru. 

Setelah beliau menyelesaikan pemaparannya, Prof. Dra. Diah Kristina, M.A. Ph.D. dari Prodi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengajukan pertanyaan via pesan Zoom terkait jenis inovasi yang harus didorong oleh kreativitas bukan dari kebutuhan. Pertanyaan tersebut pun terjawab dengan pemaparan yang rinci dari Pembicara Kunci.

Karakter bangsa dibentuk oleh kreativitas bangsa itu sendiri. Untuk itu, kita perlu memerlukan rujukan budaya tradisi yang bernilai dinamis dan positif yang sebetulnya terdapat pada semua subkultural bangsa ini. Ketahanan budaya melalui penguatan kearifan lokal sangat dibutuhkan agar budaya bangsa Indonesia tetap dipertahankan dan menjadi unggulan bangsa Indonesia.

Sebelum memasuki materi dari para narasumber, terdapat penayangan video cuplikan sajian pertunjukan tari dengan judul “Tari Srikandi Vs Mustakaweni”. Tarian ini mengisahkan perang tanding antara Srikandi melawan Mustakaweni untuk memperebutkan pusaka layang jamus kalimusada. Pertunjukan ini mengajarkan kita untuk berpegang teguh terhadap kebenaran dan kebajikan berani melawan kedzoliman.

Terdapat tiga narasumber dalam webinar ini yaitu H. Ferdiansyah, S.E., M.M. selaku Anggota Komisi X DPR RI, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana yang menjabat sebagai Rektor ISI Denpasar, dan Prof. Dr. Yudiaryani, M.A. yang merupakan Dosen ISI Yogyakarta. 

Pada kesempatan hari itu, H. Ferdiansyah, S.E., M.M. memberikan pemaparan mengenai “Pemetaan dan Pemanfaatan Era Industri 4.0 dan Society 5.0 untuk Kemajuan dan Mental Bangsa”. 

 

“Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang merumuskan konsep bernama Society 5.0 yang memungkinkan manusia memanfaatkan manusia menggunakan teknologi tersebut untuk menyelesaikan beberapa masalah sosial. Diharapkan beberapa PTN di Indonesia dapat mengaplikasikan Society 5.0 dalam penyelesaian masalah yang ada,” katanya. 

Budaya perguruan tinggi adalah gabungan antara nilai kode etik, visi, misi hingga tujuan yang ingin dicapai oleh perguruan tinggi tersebut. Beliau berharap perguruan tinggi yang belum memiliki corporate culture untuk segera membuat dan bagi PTN yang sudah memiliki corporate culture harus melakukan evaluasi dalam penerapannya.

Pemaparan materi kedua bertajuk “Produktivitas Akademisi dan Kreator dalam Meningkatkan Ketahanan Budaya melalui  penguatan Kearifan Lokal” dilanjutkan oleh Prof. Dr. I Wayan Adnyana S.Sn, M.Sn. 

 

Pada pemaparannya, beliau mengatakan bahwa beberapa tantangan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah serbuan budaya populer, minimnya jumlah Profesor Penciptaan Seni/Desain, pengabaian kearifan lokal, dan terbatasnya jumlah inovasi.

“Inovasi harus berbasis kearifan lokal maka otomatis akan terjadi ketahanan budaya. Ketahanan budaya berlangsung karena internalisasi, invensi, dan juga hadirnya sosok-sosok kreatif dalam hal ini sosok Guru Besar Penciptaan Seni/Desain, dan apresiasi berideologi ketahanan budaya. Pada sosok Guru Besar penciptaan seni/desain kita sematkan pada dirinya ada nacit knowledge, kreatif, inovatif, kewirausahaan yang perlu diwariskan,” tambahnya. 

Sebagai narasumber terakhir pada webinar hari itu, Prof. Dr. Yudiarini, S.Sen., M.Hum. berkesempatan memaparkan materi dengan tema “Kreativitas Seni Interkultur Penyangga Ketahanan Nilai-Nilai Kebangsaan”.

 

Beliau mengatakan bahwa seluruh elemen seni pertunjukan seperti nilai-nilai budaya sumber, masyarakat pemilik budaya sumber, pelaku kesenian, peneliti, dan calon penonton sebagai pemilik budaya target diikut sertakan dalam proses tahapan penciptaan seni. 

Beliau juga mengungkapkan, “tidak terjadi kemungkinan penjajahan dari budaya satu ke budaya yang lain atau yang lebih unggul. Justru akan terjadi pembacaan kembali nilai-nilai tradisi, pengembangannya, dan pemanfaatannya untuk menjaga ketahanan nilai-nilai kebangsaan.” 

Setelah ketiga narasumber telah memaparkan materi yang disampaikan, terdapat sesi diskusi yang dipandu oleh moderator. Peserta yang pertanyaannya disebutkan oleh moderator saat sesi diskusi mendapat satu buah tas laptop cantik dan hadiah menarik lainnya.

Pertanyaan dari peserta diskusi diantaranya mengenai revitalisasi budaya, permasalahan Guru Besar penciptaan seni/desain, pemerataan pembangunan infrastruktur budaya di daerah, serta kebijakan pemerintah dalam era disrupsi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara rinci dan jelas oleh ketiga narasumber yang hadir.

Pada akhir diskusi, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen. M.Hum menyampaikan kesimpulan dari serangkaian sesi webinar. 

“Keberadaan seni pertunjukan di era disrupsi yang penuh persaingan dan perubahan yang sangat cepat dan tanpa batas ruang dan waktu, membutuhkan strategi khusus dari para pelaku seni dengan keterampilannya agar tetap hadir mempertahankan jati diri kreativitas, ideologi, dan kesejahteraannya. Perubahan yang sangat cepat di era disrupsi menghadapkan kita pada dua sisi, harus beradaptasi dengan sangat cepat dan sekaligus juga mengantisipasi dampak negatif yang menyertai,” ungkapnya.

Beliau juga mengatakan bahwa memberdayakan masyarakat dan menggali kearifan lokal di era teknologi digital merupakan tantangan yang dihadapi saat ini untuk menjaga ketahanan budaya dan peningkatan inovasi berbasis kearifan lokal perlu didukung untuk menjaga ketahanan budaya. Pelaksanaan nilai-nilai kearifan lokal yang sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia merupakan manifestasi dan legitimasi masyarakat Indonesia terhadap budaya. Eksistensi budaya dan keragaman kearifan lokal bangsa Indonesia merupakan sarana untuk membangun karakter masyarakat Indonesia yang dapat meminimalisir dampak negatif yang terjadi pada era disrupsi. **

ISBI Bandung Alamat, Jl. Buah Batu No. 212 Bandung | Phone: +62 7314982 | Fax: +62 7303021 | e-Mail: isbi@isbi.ac.id