• Subang jadi Kota Internasional, akan dibangun Kampus II ISBI Bandung sebagai Bagian dari Pusat Kebudayaan di Subang


    ISBI Bandung hadir dalam acara Gunem Catur pada hari Minggu, 17/01/2021, dengan tema ‘Peran Pendidikan dan Budaya Menghadapi Subang sebagai Kota Internasional’ yang digelar di Aula Pemkab Subang. Hal ini sebagai bentuk respon terhadap rencana Pemprov Jawa Barat dimana Kabupaten Subang masuk dalam master plan Segitiga Rebana. Subang akan jadi pusat pengembangan pembangunan, dalam program Subang Kota Internasional, dengan hadirnya pelabuhan Patimban. Dengan tujuan tersebut, Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan menginisiasi berdirinya Kampus II Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Kabupaten Subang, yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Subang sebagai bagian dari pusat kebudayaan di Subang.

    Diawali dengan penampilan Mang Ayi seorang Juru Pantun Sunda dari Subang yang memainkan Seni Pantun Buhun, kemudian Moderator Rakeyan Bezie Galih Manggala mengundang para narasumber yang diantaranya adalah Rektor ISBI Bandung, Prof Dr Hj Een Herdiani S.Sen M. Hum, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat ISBI Bandung, Dr. Suhendi Afryanto, S.Kar., M.M, Kadisparpora Subang mewakili Pemda Kab. Subang, Drs. Asep Setia Permana, M.Si dan tokoh seni dan budayawan Subang, Abah Renggo untuk membahas mengenai rencana kerja sama yang akan dilakukan oleh Pemerinah Subang dengan ISBI Bandung terkait mempertahankan budaya sunda di tengah-tengah modernisasi dan menangkap peluang di dunia internasional. 

    Prof Een Herdiani menyatakan bahwa banyak hal positif yang harus disambut dalam menghadapi Subang sebagai kota internasional. Pariwisata, ekonomi, pendidikan dan unsur lainnya akan berkembang dengan pesat, maka kekuatan seni dan budaya harus menjadi salah satu filter dalam mempertahankan local genius yang dimiliki Subang. Untuk menangkap peluang ini harus mendapat dukungan oleh berbagai pihak. Kerja sama dengan pemerintah, industri, media, pengusaha, seniman, budayawan dan lain sebagainya dilakukan untuk membangun jaringan pentahelix yang kuat. “Karena seperti yang diketahui bersama Subang memiliki sumber daya dan seni tradisi yang luar biasa. Diperlukan laboratorium seni budaya yang diwujudkan dengan dibangunnya perguruan tinggi seni yaitu Kampus II ISBI Bandung untuk mempertahankan budaya sunda di kota Subang ini.” pungkas Prof Een Herdiani.

    Prof Een Herdiani juga menambahkan Subang memiliki wilayah maritim, dan sangat perlu saat ini menggali kembali mengenai budaya maritimnya yang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat. Pemerintah sudah mulai menyoroti kembali budaya maritim. ISBI Bandung dipercaya oleh kementerian untuk dapat menggali literasi mengenai budaya maritim. Dengan adanya Patimban di Subang, ISBI Bandung juga akan memperkaya literasi budaya maritim terutama budaya maritime di Subang Jawa Barat. 

    Pada kesempatan tersebut, Asep Setia Permana selaku perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang menyambut baik kehadiran ISBI Bandung di Subang guna menjalin kerja sama khususnya dalam bidang seni dan budaya. Subang sendiri memiliki banyak tokoh-tokoh seni budaya serta ada istiadat yang bisa dikembangkan potensinya oleh ISBI Bandung. Seperti yang diketahui bersama Subang terdiri dari 3 zona, yaitu zona selatan, zona tengah, dan zona utara atau dikenal juga dengan sebutan Pantura. Subang memiliki karateristik yang kuat serta kekayaan budaya dan adat istiadat yang cukup besar tersebar di 30 kecamatan dan 253 desa. Ditambah saat ini Subang akan melakukan pembangunan untuk faslitas transportasi kota pelabuhan Patimban. Selain mengenai kebudayaannya, wisata maritim juga merupakan harapan besar Subang kedepan. Ketika sektor wisata maju maka akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Dengan adanya pendapatan di sector wisata, maka masyarakat disekitar daerah wisata juga ikut hidup diantaranya para pelaku seni budaya, nelayan dan lain sebagainya. ISBI Bandung diharapkan dapat membuat konsep untuk meningkatkan potensi tersebut bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Subang, serta secepatnya dapat dituangkan dalam bentuk MoU sebagai kekuatan hukum pelaksanaan kerja sama antara ISBI Bandung dan Kabupaten Subang.

    Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi dan Kerja Sama, Suhendi Afriyanto yang juga merupakan narasumber talkshow tersebut mengungkapkan bahwa ketika Subang menjadi pintu gerbang nasional dan internasional dengan hadirnya Patimban terdapat dampak positif dan negatifnya. Dampak positif tentu saja yaitu pemekaran wilayah dalam arti zona ekonomi akan terbuka, akan tetapi dampak negatifnya akan mengarah terhadap culture, karena akan terjadi percampuran masyarakat dari awalnya homogen ke heterogen, hal ini disebabkan banyaknya pendatang/investor yang akan mempengaruhi kebudayaan di wilayah Subang itu sendiri. Jika diabaikan nanti akan menjadi ancaman bagi sistem nilai atau norma-norma dan juga berdampak pada peradaban. Oleh karena itu, merupakan sebuah tantangan untuk Subang bagaimana melihat potensi sebagai sebuah peluang, dan untuk memfilter itu semua Subang harus ada pusat kebudayaan yang dimotori dengan disediakannya laboratorium-laboratorium kesenian, dan jika ada laboratorium kesenian maka harus ada sekolahnya. Sekolah ini nantinya ada 3 fungsi, pertama, melakukan konservasi; kedua, melakukan pewarisan sistem nilai; ketiga, yang tidak kalah pentingnya melakukan inovasi untuk membaca peluang ketika Subang menjadi pintu gerbang internasional. Dampak pariwisatanya juga besar, oleh karena itu kalau ada wacana kedepan ISBI Bandung membuka kampus II, itu juga sebagai salah satu strategi kebudayaan dimana nanti posisi Subang menjadi posisi central, tidak hanya Bandung. Subang jika mempelopori berdirinya pusat kebudayaan, maka merupakan sebuah keniscayaan bahwa nanti khasanah kebudayaan Jawa Barat akan sangat kaya karena ditopang dengan pilar-pilar pusat kebudayaan yang luar biasa. Tidak menutup kemungkinan, Karawang, Purwakarta, Indramayu dan Cirebon juga akan menjadi peta kekuatan yang pusatnya ada di Subang. Subang dapat menjadi gerbang utama masuknya arus perekonomian tetapi tetap mempertahankan dan mengembangkan budaya lokalnya. Kebudayaan ini juga harus mempunyai kepercayaan diri yang harus kita sounding-kan ke dunia internasional, Subang nanti akan menggeliat sebagai salah satu kota di Jawa Barat yang juga memiliki potensi yang luar biasa secara nasional dan internasional.

    “Oeh karena itu nanti jika subang mempelopori munculnya pusat kebudayaan, lahirnya institusi seni dan budaya di Subang merupakan salah satu upaya penting menjaga peradaban. ISBI Bandung telah menjadi pusat rujukan untuk setiap aktifitas kebudayaan dan yang tidak kalah penting ISBI Bandung sebagai pilar-pilar yang akan menancapkan patok untuk menahan serangan-serangan budaya yang akan datang ketika nanti Subang menjadi kota internasional.” ujar Suhendi.

    Abah Renggo yang merupakan tokoh seni dan budayawan asal Subang menyatakan hadirnya ISBI Bandung disambut dengan baik oleh masyarakat Subang yang menginginkan Subang berstatus go international akan tetapi tetap mempertahankan tradisi yang ada. Subang merupakan tempat yang unik, dimana kesenian tradisi begitu mengakar serta tumbuh dan berkembang. Seni yang masih hidup di Subang sebuah potensi yang luar biasa. Untuk menjaga agar tradisi ini tidak hilang, harus ada upaya-upaya yang kuat dilakukan untuk memproteksi seni tradisi agar bisa dilestarikan. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah dengan tersedianya pusat kajian yang dikomandani oleh ISBI Bandung. Didirikannya kampus II ISBI Bandung di Subang merupakan pintu gerbang kebudayaan plus daya tarik wisata menyambut datangnya pelabuhan Patimban. “ISBI Bandung harus jadi!!” sahut Abah Renggo di akhir talkshow.

    Pada pertemuan tersebut ISBI Bandung mempersembahkan Perform Live Ujian Mahasiswa Prodi Karawitan dan Prodi Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, dimana mahasiswa yang ujian merupakan mahasiswa-mahasiswi asal Subang. Proses penjajakan untuk didirikannya kampus II ISBI Bandung dilakukan kepada pemerintah kabupaten Subang, kepala dinas terkait, DPRD Subang dan Raja Lembaga Adat Karatwan Rahyang. Delapan puluh persen dukungan telah diberikan akibat tingginya animo calon mahasiswa di Kabupaten Subang dan dalam rangka dalam menghadapi perubahan Subang menjadi Kota Internasional. Usulan lokasi Kampus II ISBI Bandung akan berada di kawasan Hutan Kota Ranggawulung, dimana di sana akan dibangun pusat kebudayaan sehingga selaras dengan kehadiran kampus II ISBI Bandung.

Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Angklung dan Musik Bambu
  • Seni Tari Sunda

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Lembaga


Unit Pelaksana Teknis

  • UPT Perpustakaan
  • UPT Teknologi Informasi
  • UPT Ajang Gelar dan Busana Pertunjukan
  • UPT Kantor Urusan Internasional

Biro Akademik dan Umum

  • Bag. Akademik dan Kemahasiswaan
    • Subbag. Akademik
    • Subbag. Kemahasiswaan
  • Bag. Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat
    • Subbag. Perencanaan
    • Subbag. Kerja sama dan Hubungan Masyarakat
  • Bagian Umum dan Keuangan
    • Subbag. Keuangan
    • Subbag. Tata Usaha, Hukum dan Kepegawaian
    • Subbag. Rumah Tangga dan Barang Milik Negara